SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

Selasa, 26 April 2011

Arti Sebuah Pertunangan

Sebulan sudah pertunangan Triana dengan Alfi berlalu, pertunangan yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat termasuk aku dan pacarku Milla. Tergambar rasa bahagia pada raut wajah mereka berdua, senyuman selalu tersungging di bibir Anna, begitu kami biasa memanggil Triana.

“Selamat ya, Fi..”
“Makasih Rey, lu cepet dong nyusul, kapan lagi gue rasa Milla juga udah ngebet tuh pengen kawin”
“Ah, elu bisa aja Fi, nyantai aja tau-tau gue udah ngeduluin elu, gimana?”
“Wah bagus tuh, kalo gitu oke deh gue tunggu..?”
Keceriaan terpancar di wajah Alfi, betapa tidak kini ia tinggal selangkah lagi untuk membawa Anna kepelaminan. Ya, Anna seorang gadis cantik yang selalu dikejar-kejar cowok seluruh fakultas tempat Anna kuliah, maka dari itu Alfi merasa paling beruntung setelah berhasil membawa Anna ke ikatan pertunangan.
Perkenalan Alfi dan Anna sendiri terjadi saat ia diundang oleh Milla pacarku pada perayaan ulang tahunnya setahun yang lalu. Sedangkan aku sendiri sudah mengenal Anna jauh sebelum itu, karena memang Anna dan Milla adalah teman satu kampus pada salah satu universitas di Jakarta. Ku akui Anna memang mempunyai sosok yang begitu sempurna dengan postur 165 cm dan berat yang ideal membuat tubuhnya proporsional, kaki jenjang dan wajah yang cantik. Kalau saja aku belum punya Milla mungkin aku juga akan berusaha mengejar Anna, tapi aku lebih menyayangi Milla dengan keceriaan dan kecantikannya yang tidak kalah bila dibandingkan dengan Anna.Milla memang lebih periang dibandingkan Anna yang agak pendiam, Anna paling hanya tersenyum bila kami berempat bercanda dan berkelakar.
Milla sendiri telah menjadi pacarku selama kurang lebih dua tahun dengan berbagai pasang surutnya masa pacaran. Pernah kami putus untuk beberapa waktu lamanya tapi akhirnya kami saling menyadari kesalahan kami dan mulai komitmen untuk pacaran lagi. Pernah juga kuajak Milla untuk bertunangan tapi Milla menolak karena ia belum siap, ia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu baru berpikir untuk kearah hubungan yang lebih jauh
“Sudahlah Mas Rey, lebih baik kita pacaran kaya gini aja, aku gak mau kita tunangan tapi putus di tengah jalan, toh kita bisa melakukan segalanya kan?”
Begitulah bila aku mulai membicarakan pertunangan dengan Milla, memang selama pacaran kami telah melakukan hal yang lebuh jauh dan hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah resmi menikah. Tapi ini kami lakukan karena rasa cinta diantara kami dan Milla pun menyerahkan yang paling berharga dalam hidupnya sebagai seorang wanita dengan rela dan di dasari cinta diantara kami.
Untuk hal yang satu ini bagiku memang bukan yang pertama dengan Milla saja tetapi aku sudah pernah melakukannya dengan beberapa pacarku yang sebelumnya. Tapi dengan Milla aku menemukan sesuatu yang lain yang penuh arti dan penuh cinta dan aku kadang berjanji pada diri sendiri bahwa Milla adalah pelabuhan cintaku yang terakhir. Pertamanya kami hanya sebatas saling berciuman dan saling menjelajahi tubuh masing-masing, tapi pertemuan demi pertemuan kami mulai melangkah lebih jauh lagi hingga suatu ketika kami sudah bergumul di sebuah kamar hotel yang sengaja kami buking untuk bercengkrama.
Milla terlentang ditempat tidur, hanya tinggal celana dalamnya saja yang melekat menutupi daerah selangkangannya.Aku sendiri telah menanggalkan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Milla yang terengah. Perlahan kukecup bibirnya, kubuka dan kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang mulai terbuka, Milla menerimanya dengan dengan pagutan yang hebat pula. Aku mulai menempatkan tubuhku diatas tubuhnya dan terus memainkan ciumanku, kini bibirku merayap turun menuju leher dan terus bergerak untuk mencapai gumpalan daging yang membumbung diatas dada Milla.
“Akh.. Mas.. Rey..” Milla mendesah lirih saat lidahku yang basah mencapai puncak payudaranya yang merah dan menegang.
lama lidahku bermain disana, mengulum dan menggigit kecil tonjolan daging sebesar biji kacang di atas payudara Milla, diselingi remasan tanganku seakan aku tak pernah puas dengan benda ukuran 36b ini.Kini bibirku berada diatas perut Milla, kujelajahi lekuk pinggang Milla dengan lidahku, perlahan tanganku merayap menggeser celana dalam Milla dari tempatnya. Cengkrama lembut menahan tanganku untuk terus menarik kain tipis itu, ada keraguan pada diri Milla. Sejenak aku diam, dengan tengadah kutatap wajah Milla dengan penuh arti dan sesaat kemudian Milla mengangkat pantatnya memuluskan aku melepaskan kain pertahanan terakhir Milla dan melemparkannya ke lantai kamar itu. Dengan cepat Milla menutup daerah selangkangannya dengan kedua tangan, perlahan kutarik kedua tangan itu dan tersingkaplah benda yang selama ini menjadi impian setiap lelaki.
“Mas.. apa yang kau lakukan.. Ohh..” suara Milla tertahan ketika lidahku mulai menyapu daerah kewanitaannya dengan lembut, aku tahu ia merasakan sensasi yang begitu indah saat itu.
Desahan kecil keluar dari mumut Milla mengiringi sapuan lidahku yang basah. Aku semakin tegang, lama aku mempermainkan perasaan Milla melalui sapuan dan jilatan lidahku, terkadang gigitan kecil menambah sensasi yang tida taranya bagi Milla dan ini memang yang pertama ia rasakan dari seprang lelaki.
“.. Suu.. Sudah.. Mas.. sudah.. hh.. aku gak kuat..”
Kurasakan tangan Milla menarik bahuku untuk meninggalkan selangkangannya, akupun beringsut naik sambil terus menyapukan lidahku kepermukaan kulitnya yang lembut. Kini tubuh kami sejajar, kurasakan penisku mengganjal diatas perut Milla, kembali kukecup bibirnya yang terbuka. Sesaat lamanya kami saling berpandangan dengan begitu dekat, saling meminta pengertian satu sama lain.Walaupun mau meledak rasanya, aku tak ingin merenggut sesuatu yang aku inginkan dari Milla dengan paksa.
“Milla sayang.. aku.. sayang kamu..”
“Mas Rey..” Milla mulai merenggangkan kedua kakinya dan aku mengerti bahwa ia siap menerimaku untuk memasuki dirinya.
Perlahan kuposisikan senjataku tepat didepan vaginanya, gesekan pelan mulai menyentuh kulit vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Milla memejamkan matanya dan memeluk erat bahuku seakan takut untuk ditinggalkan. Dengan hati-hati ku tekan pantatku, perlahan senjataku menyeruak masuk menggesek bibir vagina yang sudah basah oleh lendir kenikmatan, sesaat kemudian kurasakan senjataku tertahan sesuatu yang tipis.
“Ohh.. Mass..” akhirnya dengan sedikit tekanan kecil amblaslah senjataku kedalam liang sorgawi Milla yang masih sangat rapat dan sempit.
Sesaat kudiamkan benda itu didalam sana, kulihat wajah Milla terpejam memerah merasakan sesuatu terjadi pada dirinya.
“Milla sayang.. aku mencintaimu..”
Kembali kukecup bibir wanita ini dan dengan sangat pelan aku mulai mengangkat pantatku.
“Jangan.. Mas..” Milla mungkin merasakan ada yang hilang dari dirinnya saat kuangkat penisku menjauh dari Vaginanya.
“Sabar sayang.. aku ga kemana..” lalu dengan pelan pula kudorong kembali pantatku menekan selangkangannya.
Dengan ritme yang beraturan kudorong dan kutarik pantatku dari selangkangan Milla. Dengan sedikit rasa sakit akhirnya Milla merasakan kenikmatan dari gesekan demi gesekan antara penisku dengan vaginanya.
Malam itu kami benar-benar merasakan sesuatu yang indah berdua, hentakan demi hentakan diringi dengan desahan yang keluar dari mulut kami mengiringi suara hembusan AC kamar hotel itu. Malam itu kami menumpahkan rasa cinta yang selama ini menggelora dan akhirnya tubuh kami terkulai lemas setelah merasakan orgasme yang tiada taranya.
“Terima kasih Milla sayang..”
“Makasih juga Mas Rey..” malam itu kami tidur dengan berpelukan hingga pagi, seakan tidak ingin terpisahkan lagi.
Sejak saat itu aku dan Milla sering melakukan lagi hal tersebut setiap ada kesempatan dan hubungan kamipun kian bertambah dekat saja. Kadang kami melakukannya di tempat kostnya Milla, tak jarang pula Milla mengunjungiku dirumahku dan kami tumpahkan hasrat cinta kami disana.
Seperti biasanya sore itu sehabis pulang dari kantor aku terlebih dulu ke kampusnya Milla unruk mengantarnya pulang ke tempat kosnya.Sesampainya disana kulihat Milla duduk menungguku dengan ditemani Anna.
“Hai..!” aku berjalan menghampiri mereka berdua sambil melambaikan tangan.
“Eh.. Mas Rey.. tumben lama Mas?” Milla berdiri sambil melihat kearah kedatanganku
“Sorry.. tadi Mas Rey dipanggil bos dulu sebelum pulang, Eh.. Anna apa kabar? Alfi belum datang?”
“Baik Mas, ah enggak kok, Anna lagi nunggu Mas Rey kok.” jawab Anna yang berdiri mengikuti Milla dan berjalan menghampiriku.
“Iya Mas.., Mas Alfi katanya gak bisa jemput Anna, jadi ya Anna ikut kita” tambah Milla menjelaskan
“Ya udah!, ayo deh..”
Dengan agak heran akhirnya aku segera menuju mobil di parkiran kampus dengan di ikuti oleh Milla dan Anna di belakangku. Biasanya Alfi lebih dulu dariku menjemput Anna pulang kuliah tapi kali ini ternyata Anna ikut denganku, Komplek tempat Anna tinggal memang searah dengan rumahku.Sore itu Anna memang agak pendiam dari biasanya dan terlihat ada sesuatu yang lain yang seakan disembunyikan dari dirinya. Ada raut kegelisahan di raut wajah Anna yang kadang kulihat melalui kaca kecil didepan mobilku, terkadang ia tajam menatapku seakan ingin menyampaikan sesuatu tapi setelah lama menatapku akhirnya ia tertunduk dengan menghela nafas panjang seakan ingin menghilangkan beban berat yang menghimpitnya.
“Eh..pelan-pelan dong Mas, nanti kelewat lagi kayak kemaren” tiba-tiba Milla memecahkan pikiran yang ada di benakku.
“Oh iya, udah mau nyampe ya?”, perlahan aku berhenti didepan sebuah rumah tempat kos-kosannya Milla.
“Mampir dulu Mas ya? ”
“Ya.. Mas Rey sih terserah Anna, gimana?” sambil aku berbalik menoleh kearah Anna yang seakan baru tersadar dari lamunannya.
“Aduh.. sorry deh Mill, gue mau cepet balik niih”
“Ya udah deh sampe besok ya!, daah Mas Rey” Milla bergerak menjauh dan melambaikan tangannya.
“Ann, pindah depan ya?” tanpa menjawab Anna keluar dari mobil dan masuk lagi untuk pindah ke depan menggantikan tempat duduk Milla sebelumnya, disampingku. Perlahan mobilku bergerak lagi meninggalkan tempat kosnya Milla.
“Asyik dong Ann, sebentar lagi Anna jadi kawin sama Alfi” di perjalanan aku berusaha memecah kediaman Anna.
“Tinggal seminggu lagi kan?” tambahku lagi
“Iya Mas..”
“Lho kok calon pengantin kok lesu gitu, ceria dong!” Anna kembali diam dan hanya tersenyum memperlihatkan bentuk bibirnya yang lembut.
Wangi parfum yang di pakai Anna bercampur dengan keringat yang mengering tercium menggugah naluri kelelakianku, Anna begitu cantik hari ini. Balutan kaos berlengan pendek melekat ketat menonjolkan sepasang bukit yang menggumpal di dadanya, benda itu memang tidak sebesar kepunyaan Milla tapi itu pun cukup membuat lelaki ingin menjamahnya. Milla agak merebahkan jok mobil yang didudukinya dengan kaki yang saling menyilang sehingga belahan paha mulusnya dengan leluasa menghiasi ujung mataku yang kerap melirik ke arah situ. Saat itu muncullah pikiran gilaku untuk dapat mencurahkan hasratku pada tubuh sensual disampingku ini, padahal aku tahu ia teman dekat Milla kekasihku.
“Beruntung sekali Alfi, mendapatkan calon istri seperti kamu” kembali aku menghidupkan suasana.
“Orangnya cantik, keibuan dan pintar lagi” tambahku lagi
“Ah.. Mas Rey bisa aja kalo muji orang”
“Lho bener kok, kamu tahu gak, kadang Mas Rey berfikir kenapa yang bakal duduk dipelaminan mendampingi kamu itu, Alfi? kenapa gak Mas Rey sendiri?” perlahan aku melancarkan serangan dengan kata-kata manisku. Sambil terus diam Milla menegakan tubuhnya dan menatap kearahku, ia tersentak mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulutku. Akupun agak kaget dengan kata yang baru saja aku ucapkan, tapi untunglah mobilku sudah berada dipintu gerbang rumah besar kediaman Anna.
“Makasih ya Mas Rey, mampir dulu gak?”
“Ga usah deh Ann, Mas Rey juga mau buru-buru balik” Anna keluar dari mobilku
“Eh.. Ann, sorry ya kata-kata Mas Rey tadi agak..”
“Ah gak apa-apa kok Mas..”
“Kalo gitu sampai ketemu ya..!”
“Bye..”
“Huh..” aku menghela nafas panjang, hampir saja aku melakukan suatu kebodohan dengan mencoba merayu Anna, gadis pendiam sahabat kekasihku.
Siang itu aku baru saja mengantar Milla ke bandara, Milla sengaja pulang ke Surabaya setelah mendapat kabar ayahnya masuk rumah sakit karena serangan jantung. Sebenarnya aku ingin ikut tetapi Milla melarangku dengan alasan besok aku harus masuk kantor.
“Sudahlah Mas Rey, aku rasa papa ga apa-apa kok”
“Kalo gitu salam aja ya sama keluarga disana, semoga papa kamu cepet baik”
“Iya Mas nanti aku sampaikan”, setelah kulihat Milla memasuki ruang tunggu keberangkatan akupun bergegas kembali kemobilku untuk kembali kekantor. Ditengah perjalanan tiba-tiba saja terdengar HP ku berbunyi tanda seseorang ingin bicara denganku.
“Ya..! hallo.. Anna ada apa? tumben nelpon?” ternyata Anna yang menelponku
“Anu Mas.. Aku pengen ketemu sama Mas Rey, Mas Rey lagi dimana?”
“Wah, penting banget nih kayaknya ada apa?, kebetulan Mas Rey lagi dijalan”
“Anna lagi di kantin kampus, Mas Rey mau kan jemput Anna, ada sesuatu yang ingin aku omongin Mas”
“Mm.. ya udah kalo gitu Mas langsung kesana deh, tunggu sebentar ya!”
“Baik Mas bye..!”
“Bye..” dengan penasaran ku arahkan mobilku menuju kampusnya Anna, rasanya agak aneh Anna ingin membicarakan sesuatu karena selama ini tempat curhat Anna hanyalah Milla dan Alfi.
Perlahan mobilku memasuki pelataran parkir universitas, baru saja aku hendak memarkirkan mobilku kulihat Anna setengah berlari menuju kearahku dan langsung masuk kemobil setelah aku berhenti didekatnya.
“Ayo Mas kita pergi dari sini”
“Kemana Ann? ada apa sebenarnya?” aku semakin penasaran dengan sikap Anna.
“Udah deh yang penting kita pergi dulu dari sini”
“Oke deh kalo gitu” tanpa bicara lagi kuputar mobilku meninggalkan pelataran parkir kampus itu.
Di dalam mobil kulihat Anna kembali dengan sikap diamnya.
“Ada apa Ann, mau kemana kita” tanyaku lagi.
“Terserah Mas Rey deh, yang jelas Anna pengen ngomuong penting sama Mas Rey” Akhirnya kami sepakat menuju sebuah kafe untuk bicara lebih rilex lagi.
Aku semakin penasaran, karena sesampanya di kafe tersebut dan memesan minuman, Anna tidak langsung bercerita tetapi malah diam seakan ragu mengatakan sesuatu.
“Nah sekarang kita cuma berdua dan udah minum, sekarang coba Anna cerita ada apa sebenarnya” lagi-lagi aku memulai obrolan lebih dulu”
“Eng.. Mhh.. anu Mas.., Milla udah berangkat Mas?” Anna berusaha mengalihkan perhatian, tapi aku tahu bukan maksudnya menanyakan kepergian Milla.
“Udah.. Barusan Ma antar ke bandara.., sekarang coba kamu cerita.. kamu lagi ada masalah ya sama Milla” aku mencoba menebak masalah yang ingin di bicarakan Anna.
“Enggak.. gak ada apa-apa kok Mas sama Milla”
“Atau sama Alfi, kamu beranter ya sama Alfi”
“Hh.. entahlah Mas.” Anna menarik nafas panjang saat kusebut nama Alfi
“Anu Mas, sebenarnya Anna mau nanya sesuatu sama Mas Rey” sambung Anna lagi
“Soal apa?” aku semakin penasaran
“Anna pengen tahu, maksud kata-kata Mas Rey yang kemaren itu sebenarnya apa?” betapa terkejutnya aku mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Anna.
“Kata-kata yang mana Ann?” aku pura-pura tidak mengerti dengan yang baru saja Anna tanyakan.
“Kemaren Mas Rey bilang kalau seandainya Mas Rey menggantikan Mas Alfi duduk di pelaminan mendampingi Anna kan?, semalaman Anna gak bisa tidur Mas, Anna mau tahu yang sebenarnya” sejenak aku terdiam dan menatap Anna yang juga menatapku dengan penuh rasa penasaran. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang ada dalam pikiran gadis cantik ini bertanya demikian.
Lama kutatap matanya, ada sesuatu yang tersimpan lain di dalam sana dan membuatku penasaran untuk dapat menyelaminya.
“Kalau Anna pengen tahu yang sebenarnya, kemarin Mas Rey ngomong sama Anna hal yang sebenarnya” dengan sikap serius aku mulai melontarkan kata-kata.
“Maksud Mas Rey..”
“Kalau saja kamu tidak menjadi tunangan Alfi dan Milla gak jadi pacar Mas Rey, mungkin Mas Rey yang mendampingi kamu karena Mas Rey akan terus mengejar kamu sampai kamu menerima cinta Mas Rey” kembali aku mengeluarkan kata-kata gombal yang selama ini hampir kulupakan.
“Jadi..?” Anna semakin penasaran.
“Sebenarnya sudah lam Mas Rey, jatuh cinta sama kamu Ann, tapi sudahlah itu gak mungkin” sambungku lagi.
“Mas.. Mas Rey tahu gak, kadang Anna iri sama Milla, Milla sering cerita tentang Mas Rey, kebaikan Mas Rey, sikap Mas rey dan itu Anna gak bisa dapetin dari Alfi”.
Rupanya pancingan kata-kataku mulai merasuki pikiran gadis ini dan aku sendiri tidak menyangka ia akan berkata seperti itu. Anna terus bercerita tentang perlakuan Alfi selama ini yang memang kaku selama berpacaran dengannya. Alfi memang baik, tapi sebagai pacar Anna membutuhkan kasih sayang dan hal-hal romantis yang selalu didambakan setiap wanita. Milla ternyata sering bercerita ke sahabatnya ini bagaimana kami menghabiskan akhir pekan dan malam-malam penuh cinta dan romantis, sedangkan cara Anna berpacaran hanyalah sebatas berpegangan tangan dan berciuman bibir saja dan Anna ingin lebih dari itu.
“Mas.. kalau boleh aku ingin merasakan semua itu Mas..”
“Gila! kamu kan bisa minta semua itu dari Alfi Ann..” Seakan tak percaya aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Anna.
“Sebentar lagi kalian akan menikah dan bersatu selamanya ”
“Oleh karena itu Mas aku mau merasakan semua yang di ceritakan Milla sebelum semuanya terikat ikatan perkawinan Mas, aku ga mau mengkhianati suamiku”
“Tapi..” seakan tidak mau aku berpura-pura menolaknya, padahal senang sekali rasanya aku mendengar gadis yang selama ini menjadi idamanku meminta sesuatu yang pasti kuberikan.
“Mas Rey mau kan?” aku mengangguk pelan tanda setuju membantunya.
“Tapi ada syaratnya Mas”
“Apa itu..?”
“Mas Rey jangan sampai merusak kesucianku, karena aku mau memberikan yang satu ini hanya untuk suamiku kelak”
“Jadi.. kita..” Dengan agak kecewa aku ingin tahu apa maksud semuanya.
“Ya.. aku ingin Mas Rey mencumbuiku tapi tanpa penetrasi, Mas Rey mesti janji dulu”
“Tapi Mas boleh ngapain aja kan selain yang satu itu?”
“Mmh.. iya Mas.. janji ya!”
“Ya baiklah Mas Rey janji..” entah apa yang kujanjikan yang jelas kesempatan emas untuk bercinta dengan gadis idamanku selama ini tak mungkin aku lewatkan begitu saja.
Entah apa yang ada dalam pikiran Anna waktu itu yang jelas mana mungkin aku menolak ajakannya untuk saling mencumbu. Setelah sepakat akhirnya kami meluncur kesebuah hotel di pinggiran kota, sengaja kami mencari tempat yang agak terpencil karwena tidak ingin siapapun tahu hal ini apalagi kalau sampai Alfi atau Milla tahu semua akan jadi berantakan. Akupun tak ingin mengganggu rencana pernikahan Anna dengan alfi yang hanya beberapa hari lagi.
Jam digital di dashboard mobilku menubjukan pukul 16:24 ketika mobil yang ku bawa memasuki garasi motel yang selanjutnya tertutup rapi setelah mobilku masuk dan berhenti. Dengan cepat aku segera mengurus administrasi ke bagian front office sedang Anna hanya menunggu di dalam mobil dan bergegas aku kembali setelah segalanya beres.
“Ayo Ann, kita masuk!” tanpa berkata-kata Anna keluar dari mobil dan berjalan disampingku memasuki sebuah kamar yang tersedia.
Ketegangan terlihat di wajah Anna ketiak kami mulai memasuki kamar dengan sebuah tempat tidur yang tertata rapi dan nyaman sekali kelihatannya. Kemudian Anna duduk di sofa kamar dan memandang ke arahku yang duduk bersandar di tempat tidur.
Lama kami saling diam seakan takut untuk memulai sesuatu.
“Ann, sebenarnya Mas Rey sangat memimpikan kesempatan seperti ini, hanya berdua dengan kamu” aku mulai mencairkan suasana yang menegang dari tadi.
“Kamu cantik Ann, bahagia sekali rasanya walaupun aku hanya dapat memeluk erat tubuh kamu, tapi yakin Anna mau melakukan ini, dari tadi kok diam aja?”
“Ma.. maaf.. Mas Anna gak tahu mesti ngapain?” perlahan kudekati Anna yang masih duduk di sofa, kugenggam kedua tangannya, kurasakan keringat dingin membasahi telapak tangan Anna, lalu kutarik sehingga kini Anna berdiri dan ku bawa menuju tempat tidur.
“Sekarang kamu rilex ya, sayang!” Anna memejamkan matanya saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, tak ada penolakan dalam diri Anna.
Dengan lembut kukecup kening gadis ini, kurasakan remasan halus menggenggam tanganku yang masih memegang tangan Anna, lalu bibirku mulai berjalan mencium alis, matanya yang terpejam, dan kedua pipinya danterakhir berhenti di kedua belahan bibir mungil gadis cantik ini. Anna membalah kulumanku pada bibirnya dengan pagutan yang hangat pula lalu aku mulai membuka bibirku dan mengeluarkan lidahku mencari lidah yang lain disebrang sana. Tanganku mulai merayap menggerayangi tubuh Anna, perlahan menyusup ke balik kaos ketat yang melekat ditubuhnya, kini kurasakan halusnya kulit perut gadis ini.Ketika tanagnku mulai memasuki daerah dada untuk segera merasakan lembutnya daging kenyal yang menonjol, mendadak kedua tangan Anna menahan kedua tangan ku.
“Kenapa.. sayang..?” terpaksa aku menghentikan sejenak aksiku dan kutatap wajah sayu di hadapanku dengan tajam.
Kuberikan Anna kesempatan untuk berpikir sebelum semuanya terjadi, kulihat keraguan di matanya, tapi aku tahu ia sangat menginginkannya.
“Buka ya, sayang!” Anna mengangguk pelan, lalu dengan sangat hati-hati kutarik ujung T-shirt yang melekat di tubuh Anna dan meloloskannya melalui kedua tangannya. Kulempar t-shirt itu kelantai, kini di hadapanku terpampang tubuh padat ada yang setengah telanjang dengan dada berisi dan terlindungi BH warna putih.Sejenak kutatap gumpalan daging yang masih tertutup BH itu, perlahan ku rebahkan tubuh Anna ke atas tempat tidur.Kembali ku cumbu Anna yang terlentang pasrah, kukulum lagi bibir mungil itu lalu perlahan merayap menuju leher dan terus kebawah menuju gumpalan payudara yang berisi itu. Kujulurkan lidahku mengitari bukit itu sambil tanganku merayap menuju punggung tempat dimana kaitan BH itu direkatkan, kutarik pelan BH itu dari tubuh Anna dan ku lemparkan ke lantai.
“Mass..!”Anna berusaha menutup dadanya dengan kedua tangannya,
“Jangan sayang, Mas Rey ingin melihat keindahan bukit ini..”
Segera saja tanganku menahan kedua tangan Anna dan bawa keatas kepalanya sambil kusapukan lidahku yang basah kearah ketiaknya yang bersih dengan aroma yang menggugah hasrat lelaki.
“Akh..” Anna merintih kecil sambil terpejam, tanganku merayap lagi menuju dada yang kini terbuka, sentuhan melingkar menambah sensasi lain pada diri Anna dan akhirnya mulutku pun mendarat di belahan dada Anna.
“Oohh.. Maass..” mungkin baru kali ini Anna mendapat perlakuan seperti itu, desahan demi desahan mengiringi sapuan lidahku di kedua payudara yang masih keras ini, kurasa jarang sekali payudara indah ini mendapat sentuhan lelaki. Puting yang merah kecoklatan seakan tenggelam dan belumdapat muncul kepermukaan, kuhisap puting itu dengan penuh perasaan cinta agar Anna dapat menikmati setiap sentuhanku.
Sambil terus mengulum payudara itu dengan cekatan aku menanggalkan pakainku tanpa Anna menyadarinya, kini hanya celana dalam saja yang melekat ditubuhku melindungi senjataku yang sudah menegang dari tadi.Sekarang mulutku berada di atas pusar Anna yang dihiasi sebuah anting kecil membuatnya semakin indah, kujilat dan terus merayap sambil tanganku mulai menarik rok yang di kenakan Anna.Kali ini Anna mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan penutup bagian bawah tubuhnya itu, kini aku dapat menikmati paha mulus yang dihiasi bulu-bulu halus yang menantang untuk segera disentuh.
“Jangan Mas, jangan dibuka” Anna mencengkram tanganku yang hendak menggusur kain tipis penutup daerah selangkangannya, sambil beringsut Anna menjauh dan bersandar di tempat tidur.
“Kenapa sayang..”
“Jangan Mas Rey!, Mas Rey kan udah janji”
“Iya sayang, Mas Rey ingat janji Mas Rey, tapi membuka CD kan bukan berarti mau dimasukin, iya kan?” aku berusaha tenang agar Anna merasa aman dengan perlakuanku
“Kamu nikmatin aja ya sayang!” kubelai pipi Anna lalu kucium keningnya, Anna menerimaku lagi dengan pagutan yang lebih membara saat mendaratkan ciumanku di atas bibirnya.
Sambil terus ku jelajahi dengan bibir dan lidahku perlahan aku mulai kembali menarik celana dalam itu, kali ini Anna mengangkat pantatnya dan terlepaslah pertahanan terakhir Anna. Gundukan bukit kecil dengan bulu-bulu halus yang tertata rapi menandakan Anna sangat memperhatikan daerah paling pribadinya ini, bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil tersembul di atasnya kini terpampang begitu dekat dihadapanku. Kutangkap tangan Anna yang berusaha menutupi benda indah itu, lalu kusentuh dengan sangat pelan dan penuh kelembutan. Anna mulai menikmati permainan ini, tubuhnya mulai rilex kembali tanda siap menerima aksi dariku yang selanjutnya.
Dengan pelan kubuka kedua paha Anna dengan tanganku lalu kutempatkan wajahku mengisi selangkangan itu, vagina itu begitu dekat dengan bibirku.
“Oohh..” Anna mendesis tangannya meremas rambutku yang berada diselangkangannya, ia begitu menikmati sapuan lidahku yang mengisi ruang kosong di antara kedua pahanya. Aroma vagina yang begitu kukenal membuatku semakin bernafsu ingin memberikan yang terbaik bagi gadis polos ini. Bulu-bulu halus disekitar bukit vagina menggelitik hidung dan bibirku, kucari dan kutemukan daging kecil pusat segala kenikmatan bagi Anna. Vagina itu begitu mungil dan indah dengan cairan hangat yang mulai keluar dari dalam rahim Anna dan bercampur dengan air liurku.Anna mendesah dan menggeliat merasakan sesuatu yang baru pertama ia rasakan dari seorang lelaki.
“Hoh.. Hoh.. Mass.. Anna ga tahan.. Udah Mas!” mulut Anna terus meracau, berbeda sekali dengan hari biasa yang memang begitu pendiam. Tiba-tiba saja Anna mencengkram erat rambutku dan membenamkan kepalaku lebih dalam ke selangkangannya, pantatnya mendongak keatas dan tubuhnya menegang. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat kembali keluar dari vaginanya dan kali ini lebih banyak dari sebelumnya.
“Mmas.. Reey..” aku tahu Anna mencapai orgamenya, dan aku terus saja menekan klitoris itu dengan lidahku, kulumat setiap tetesan cairan hangat yang keluar dari liang vagina itu. Cengkeraman Anna melemah dan akhirnya Anna terkulai lemas dengan nafas yang memburu, kulihat dada yang turun naik mengatur nafas dengan terengah. Kudekap erat tubuh Anna dan kembali kukecup kening gadis itu,
“Hh.. makasih Mas Rey.. tadi nikmat sekali..”
Beberapa saat lamanya ku dekap tubuh polos itu sambil terus tanganku memainkan puting susu yang mulai menegang kembali. Kini aku yang harus menikmati kehangatan itu, senjataku sangat tegang. Kalau saja aku tidak takut menyakiti perasaan Anna mungkin penisku sudah menyeruak masuk kedalam vagina sempit itu, tapi aku bersabar karena pada saatnya aku pasti mendapatkannya. Kubalikan tubuh Anna, sekarang tubuhnya menindih dan tengkurap diatas tubuhku, ia masih begitu lemas merasakan sisa kenikmatan yang baru saja ia alami. Ia tersentak kaget saat sesuatu yang tegang mengganjal tepat diperutnya
“Mas.. apa ini.. besar sekali..” Anna bergerak hendak menjauhkan tubuhnya dari tubuhku, tapi sebelum ia menyadarinya, tanganku mencengkram erat belahan pantatnya dan melingkarkan kedua kakiku menghimpit paha mulusnya.
“Jangan.. Mas..”
“Tenang sayang.. Mas Rey cuma mau merasakan yang seperti Anna rasakan, maukan Anna nolongin Mas Rey, please!” kembali ku kecup bibirnya.
“Mas Rey boleh kan ngapain aja? asal gak dimasukin kan?, Mas Rey bakal seneng banget kalo Anna mau mimi punya Mas Rey”
Anna menatapku, ia mengangguk kecil dan perlahan ia bergerak kebawah menuju perutku. Lama ia memandangi penisku yang semakin menegang saja, kemudian ia memegangnya dengan sangat hati-hati. Dengan agak ragu Anna mulai mencium kepala penisku lalu perlahan ia memasukan benda itu kemulutnya. Kakiku mengejang, darahku seakan mengalir lebih deras lagi saat kurasakan isapan demi isapan begitu nikmatnya. Anna berusaha memasukan penisku kedalam mulutnya tanpa canggung lagi, tapi penis itu begitu panjang sehingga ia hanya bisa mengulum setengahnya saja. Senjataku makin tegang tapi aku tak ingin segera mengakhiri permainan ini, kutahan dengan sekuat tenaga agar orgasmeku tidak datang terlalu dini.
“Mas.. kok gak keluar juga ya..” Anna menatap tajam mataku sambil melepaskan kulumannya.
“Kalo gitu udah dulu deh Ann, bibir kamu udah pegel kan, kita istirahat dulu deh” akhirnya kutarik tubuh Anna kembali sejajar terlentang dengan tubuhku.
“Sekarang Anna tengkurap deh, biar punya Mas Rey di gesekin ke pantat aja ya?” Anna membalikan tubuhnya dan tengkurap dengan memeluk bantal, sedangkan aku bergerak keatas tubuhnya dan menghimpitkan penisku ke belahan pantat kenyal itu.
Kutelusuri tengkuk indah itu dengan bibirku, ciuman dan gigitan kecil rupanya membangkitkan kembali gairah pada diri Anna, ia mulai mendesah kecil. Kadang kusapukan lidahku kearah ketiak dan dinding payudara sebelah luar. Kuposisikan penisku tepat di belahan pantat Anna lalu kugesek dan kugesek pelan.
Sebenarnya bisa saja aku mencapai orgasme dan memuntahkan cairan yang mendesak hendak keluar dari saluran penisku, tapi aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidupku untuk mendapatkan keperawanan Anna yang masih suci. Naluri kelelakianku mengatakan aku harus menyelesaikan permainan ini dengan merasakan kelembutan himpitan kulit vagina gadis ini.
“Ann.. kayaknya gak mau keluar juga deh.. hh” Aku berbisik sambil terus mencumbu leher Anna.
“Ya.., gg.gimana dong Mas..”
“Ann, kalo kontol Mas Rey di gesekin ke memek kamu mungkin bisa cepet keluar, boleh ga?”
“Tapi di gesek aja.. Mas.. ya..jangan di masukin!”
“Iya.. sayang..” aku tidak tahu apa yang kujanjikan yang jelas Anna memberikan lampu hijau untuk aku bertindak lebih jauh.
Anna membuka kakinya sambil terus tengkurap dan aku mulai menurunkan kepala penisku menuju celah yang berada di sebelah dalam pantat kenyal itu. Gesekan lembut kepala penisku merayap menyentuh anus dan terus menggesek liang vagina yang basah itu. Bulu-bulu halus itu menambah sensasi kenikmatan yang kurasakan, lubang itu begitu licin dan basah.
Kini tubuh itu telah berada dalam kekuasaanku, desahan kecil kembali terdengar dari mulutnya, aku tahu ia begitu menikmati permainan ini dan menginginkan lebih dari sekedar gesekan kecil saja. Sambil tak henti tanganku memainkan gumpalam daging yang menonjol didada gadis ini perlahan ku balikan tubuh Anna, kini tubuh kami saling menyamping dengan posisi tubuhku tetap berada di belakangnya. Posisi ini memudahkan tanganku untuk lebih leluasa menjamah dan mengeksploitasi bagian depan tubuh gadis ini. Hembusan nafasku yang begitu dekat dengan telinga Anna membuat tubuhnya semakin merasakan sensasi kenikmatan. Tangan kananku merayap menuju vagina yang mulai terbuka, kusentuh dan ku cari lagi klitoris yang menyembul dalan liang itu. Tekanan jariku dari arah depan dibarengi dengan gesekan senjataku dari belakang yang gencar menyentuh belahan bibir vagina yangbasah itu.
“Mas.. sudah.. Mas.. jangan.., aku gak kuat lagi..” Anna merintih menyuruhku menyudahi permainan ini, tapi naluri kewanitaannya berkata lain karena dengan reflek ia semakin membuka lebar kedua pahanya. kuposisikan kaki kananku diantara kedua kakinya, sehingga kini selangkangan Anna terbuka dengan lebar.Kembali kugesekan kepala penisku menyentuh belahan vagina basah itu, tapi kali ini dengan sedikit dorongan yang mengarah keatas sehingga dengan perlahan kepala penis itu menyeruak memasuki belahan vagina Anna yang memang licin. Sesaat ujung penisku berada dalam himpitan lubang yang basah itu, lalu kutarik dan ku benamkan lagi dengan pelan, aku ingin mempermainkan rasa nikmat gadis ini. Mendapat perlakuan seperti itu Anna semakin mengejang kedua tangannya kini mencengkram erat rambutku yang masih berada di belakangnya.
“Hh.. Maas..” lenguhan panjang terdengar dan Anna mencengkram semakin kuat, rupanya ia tak tahan dengan perlakuanku yang memasukan kepala penisku saja karena saat kudorongkan kembali pantatku, Anna menyambutnya dengan lebih menyodorkan pantatnya ke belakang sehingga penisku amblas kedalam liang yang rapat itu. Berakhirlah pertahanan gadis suci ini, kurasakan sesuatu yang kenyal menahan ujung penisku, lalu penis itu menyeruak masuk mengisi liang itu. Setelah saling diam beberapa saat akupun mulai beraksi menyodok dan menarik penisku melalui vagina itu. Kocokan pelan dan berirama terkadang semakin cepat dan cepat lagi, nikmat dan rapat sekali vagina yang masih perawan ini kurasakan.
“Gimana sayang.. lebih nikmat kan?” Anna menjawab pekataanku dengan desahan yang semakin memburu.
Lalu kuganti posisi ku, dengan tanpa mencabut penisku kuputar tubuh kami sehingga kini aku berada diatas tubuh Anna. Anna memeluk dan mencengkram punggungku merasakan setiap sentakan dari pantatku, ia mulai paham dengan ikut menggoyangkan pantatnya seirama dengan sodokan pinggangku. Wajahnya memerah dan bibirnnya yang seksi terbuka lebar, segera kulumat bibir terbuka itu dengan pagutan dan iapun membalasnya dengan penuh nafsu.
” Hooh.. Mass.. Mass..”
“Kenapa sayang.. nikmat kan..?”
“.. En.. enak.. Mas..” kuangkat dadaku dan ku topang dengan kedua tanganku menambah tenaga untuk kembali menyodok vagina itu, kulihat ekpresi Anna begitu cantik dengan mata terpejam dan bibir yang terkadang ia gigit kecil.
Gesekan demi gesekan semakin terasa nikmat, sesaat kemudan kulihat wajah Anna memerah, dan mendongak keatas, kurasakan kakinya melingkar erat dikedua pahaku, aku tahu ia akan segera mencapai klimax.
“..Tahan sayang.. sebentar lagi..”
“Aku.. aku gak kuat Mas.. aku mau.. kelluar..”. kupercepat sodokan pantatku untuk segera mengimbangi orgasme yang dirasakan Anna. kupeluk erat tubuhnya kurasakan semburan hangat membanjir di selangkanganku dan setelah itu akupun menyemburkan lahar panas yang kutahan dari tadi.
“Oohh..!” lengkingan panjang keluar dari mulut kami secara bersamaan, cairan hangat membasahi rahim Anna dan akhirnya tubuhku terjerembab diatas tubuh Anna yang terkulai lemas.
“Terima kasih sayang..”
Lama kupeluk tubuh Anna sambil merasakan sisa kenikmatan yang baru saja kami alami,
“Maafkan Mas Rey sayang, Mas Rey gak bisa nepatin janji..” setengah merayu kubisikan kata-kata itu
“Gak apa-apa kok Mas, Anna juga salah..” masih saling berpelukan akhirnya kami tertidur dalam kelelahan.
Tengah malam aku terbangun dan kulihat tubuh polos Anna tertidur begitu cantik, cairan kental yang mulai mengering masih keluar perlahan melalui bibir vaginanya bercampur dengan tetes darah yang mengering.
“Maafkan aku sayang..” Kukecup dan kutinggalkan ketempat tidur untuk membersihkan sisa lendir yang melekat diselangkanganku. Baru saja aku hendak keluar kamar mandi setelah membersihkan diri, tiba-tiba Anna masuk dan memeluk tubuhku.
“Mas Rey jahat ninggalin Anna sendiri..”
“Ga pa pa sayang.. Mas ga kemana-mana kok” kembali kupeluk tubuh Anna dan kami mandi bersama.
Selesai mandi kami melakukannya lagi, kali ini Anna benar-benar menumpahkan segalanya. Berbagai posisi ia ingin mencobanya, segala apa yang ia lihat di film BF ia praktekan kepadaku malam itu. Seakan tak pernah puas akupun melayani gelora gadis ini. Jam sembilan pagi baru kami keluar dari hotel itu setelah terlebih dulu melakukan sex kilat dengan telah berpakaian rapi, kami melakukannya sambil berdiri dengan tubuh Anna bertumpu pada meja kamar hotel itu. Anna pulang dengan naik taksi dan aku sendiri membawa mobilku menuju rumah dengan senyuman kepuasan.
Seminggu sejak kejadian itu aku dan Milla menghadiri pesta pernikahan Anna dengan Alfi yang begitu meriah. Kulihat keceriaan di wajah kedua mempelai itu, tapi dibalik semua itu kulihat kegelisahan pada tatapan Anna saat aku memberikan ucapan selamat kepada keduanya.

3 komentar:

  1. Balasan